^ Ke Atas
 
HEADLINE:
2014-04-13 09:55:18 - UN sebagai Standar Nasional untuk Pemetaan Mutu Sekolah <0> 2014-03-05 09:57:26 - Kemdikbud Luncurkan Aplikasi Data Pokok Pendidikan Menengah (Dapodikmen) <0> 2014-05-03 10:06:53 - Hardiknas 2014, Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul <0> 2014-04-13 09:53:30 - Mendikbud: Laksanakan Ujian Nasional Secara Jujur, dan Penuh Dedikasi <0> 2015-10-09 19:56:41 - SMK Yuppentek 1 Siap UN Online <0>
Anakku Sahabatku, Menjadi Orang Tua Kekinian
Diposting pada: 2017-02-23 10:42:20 | Hits : 2103 | Kategori: Pendidikan
 

“Mama gak gaul ah”, kata Sari saat aku melarangnya hangout bersama teman-temannya. Padahal bukan tanpa alasan aku melarangnya. Meski sekarang malam minggu, tapi besok pagi Sari harus ikut try out yang diadakan bimbel tempatnya belajar. Dia malah marah, dan keesokan harinya mogok makan, bahkan melakukan aksi protes dengan tidak mendatangi try outnya. Sampai habis kesabaranku, tidak sekali ini saja Sari membuatku tidak habis pikir dengan kelakuannya.

Lain Sari, lain pula Indra, adiknya yang tahun ini masuk sekolah menengah pertama. Aku masih ingat betul, Indra dulu suka membantu pekerjaanku. Setiap pulang sekolah, dia selalu menemaniku di dapur sambil menceritakan apa saja. Satu semester belakangan ini, aku mulai jarang melihatnya di dapur. Bahkan suaranya juga ikut menghilang tak lagi berisik bercerita. Paling sepatah dua patah kata sapaan saja. Awalnya kupikir karena dia capek dengan aktifitasnya di sekolah. Sampai suatu ketika aku menemukan obat-obatan terlarang di saku seragamnya. Aku kaget, saat kukonfirmasi, Toni malah menyalahkanku, yang menurutnya selalu mengabaikannya (aku hanya mendengarkan saat dia bercerita, baginya itu sama dengan mengabaikan~ LOL).

Satu lagi, Shinta, sepupu Sari. Usianya hampir sepantaran dengan Sari. Sama-sama kelas tiga menengah pertama. Menurut ibunya yang juga kakakku, sejak Shinta kelas dua, dia mulai jarang berada di rumah. Pulang hanya ganti baju, mandi, makan, lalu pergi lagi. Awalnya dulu, kakakku tahu kalau Shinta keluar untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Namun belakangan,ketika Shinta jatuh sakit sampai harus opmane gara-gara kelelahan, oleh kakakku semua kegiatannya dihentikan. Tapi tetap saja Shinta selalu mencari kesempatan untuk kembali mengikuti kegiatannya dengan alasan suka.

Dari kisah di atas, manakah yang pernah kita alami? Menjadi orangtua tentulah satu hal yang didambakan setiap pasangan yang telah menikah. Hamil, melahirkan, merawat dan mengasuh buah hati, lalu bermain bersama, adalah saat-saat tak terlupakan dan membahagiakan. Tanpa disadari, masa itu menghilang dengan sendirinya bersamaan bertambahnya usia anak yang beranjak remaja dan kesibukan kita sebagai orangtua. Sehingga tak jarang pula, kita merasa tersisih dan terabaikan karena sudah tidak dibutuhkan oleh anak-anak kita secara emosional (karena kita yang tidak memahami dunia mereka lagi atau justru kita terlalu masuk ke dunia mereka).

Dari situlah awal mula muncul berbagai permasalahan antara anak dan orangtua. Antara lain seperti anak suka membantah, semaunya sendiri, mulai berani berbohong, cuek dengan sekitar, bahkan berkelahi dengan teman. Parahnya lagi, anak-anak usia pra remaja, sering mengabaikan kita sebagai orangtuanya. Mereka cenderung menganggap kita perusak suasana, penyuruh, diktator kelas tinggi atau  tukang kepo. Terkadang mereka menyalah artikan perhatian kita sebagai orangtua. Tak jarang juga, kita sebagai orangtua justru terkesan membiarkan anak hanya karena menganggap mereka sudah besar. Padahal, justru pada masa menjelang kedewasaan inilah, anak-anak membutuhkan kita agar mereka tumbuh dengan memenuhi tahap perkembangannya dan tidak terjerumus hal-hal yang tidak diinginkan.

 

Jadi sahabat anak? Mengapa tidak…

Tidak hanya orang dewasa yang mempunyai permasalahan, anak-anak pun dihadapkan pada tantangan sesuai tahap perkembangannya. Ditambah lagi, anak-anak hidup di jaman sekarang, era digital dan penuh persaingan. Usia pra remaja adalah masa yang rawan, di mana anak mulai dituntut menunjukkan jati dirinya, berbagai masalah pun mulai bermunculan, antara lain :

  1.  Perubahan fisik yang membuat ‘kaget’;  Ini jelas disebabkan hormon pertumbuhan mereka. Yang mengkhawatirkan, anak-anak jaman sekarang justru mendapatkan informasi seputar pertumbuhan dan perubahan dirinya dari teman atau internet. Keberadaan kita sebagai orangtua yang dulu dipercaya sebagai sumber pengetahuan mereka pun tergeser oleh tehnologi, karena bagi mereka “mbah google” lebih terpercaya dan memberikan fakta otentik, tidak seperti para orangtua yang mengatakan sesuatu berdasar “katanya”, atau karena pengalaman semata.
  1. Perbedaan pendapat yang melelahkan; Biasanya disebabkan kemampuan berpikir mereka yang mulai berkembang. Sedangkan kita sebagai orangtua masih berpegang pada rasio turun-temurun yang sulit ditelaah akal anak-anak. Sehingga akhirnya anak-anak akan men”judge” kita dengan sebutan kuno, kuper, kudet, dll. Ini akibat keterbatasan kemampuan kita dalam mengkomunikasikan dengan bahasa yang bisa mereka pahami.
  1. Lingkungan social yang menuntut; pengakuan lingkungan sangat berperan dalam perkembangan anak-anak. Ketika lingkungannya menganggap ada akan keberadaannya, maka anak akan menunjukkan ke’aku’annya, atau sebaliknya, ketika lingkungan tidak menerima kehadirannya, pada saat itulah, anak menjadi pribadi yang akan sulit dipahami, bahkan oleh kita sendiri sebagai orangtua. Akibatnya, anak merasa terasing dan akan cenderung mengasingkan dirinya dari lingkungan yang ada, lalu mereka akan berusaha menemukan komunitas yang bisa menerimanya secara utuh. Tanpa mempertimbangkan baik buruknya komunitas tersebut, apa pengaruhnya dan sebagainya.

 

Melihat beberapa permasalahan yang sudah pasti akan mereka hadapi, maka saatnya kita tunjukkan bahwa sebagai orangtua kita selalu ada untuk mereka. Namun, kendala yang juga perlu kita waspadai adalah apakah mereka bisa menerima keberadaan kita. Anak-anak tersebut mempunyai filter otomatis yang secara reflek akan ‘menolak’ kita saat kita melakukan peran kita sebagai orangtua. Ini disebabkan imej orangtua di benak mereka adalah seseorang yang hanya mengatur, menyuruh ini, itu, harus dipatuhi, kalau tidak maka bla…bla…bla… .

Jadi, bagaimana agar mereka bisa menerima kita? Satu-satunya cara adalah dengan menjadi sahabat buat mereka. Seperti pola pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW anak dengan usia 11 – 14 tahun akan lebih mengena dengan menjadikan anak sebagai teman. Artinya penerapan tanggung jawab ke anak lebih ditekankan.

Mengapa kita harus menjadi sahabat buat anak ? Ingatkah kita ketika kecil dulu, saat itu kedua orangtua kita banyak memberi wejangan, nasehat, bla..bla..bla.., yang takjarang itu hanya masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Akhirnya, kita menjaga jarak dengan orangtua dan lebih dekat dengan teman-teman sebaya atau sepermainan kita. Demikian juga anak-anak kita. Itulah mengapa, kita yang sekarang jadi orangtua, jadikan anak sahabat kita.

 

Menjadi Orangtua Kekinian

Bagaimana menjadi sahabat untuk anak dalam konteks kekinian ? 8 Tips berikut yang perlu kita lakukan ;

  1. Berbagi pendidikan agama yang cukup, belajar bersama, saling menguatkan kepahaman agama masing-masing. Sehingga ketika salah satu melanggar aturan agama, atau melewati batas, tidak akan sungkan saling mengingatkan karena sudah sama-sama tahu.
  2. Saling percaya, bahwa anak akan selalu melakukan yang menurutnya baik, bisa mengukur apa akibat dari keputusannya atau pilihannya. Dengan demikian anak akan lebih banyak belajar berpikir sebelum bertindak.
  3. Menanamkan tanggung jawab dalam kebebasannya, Menghormati dunianya dengan tetap memantau secara positif.
  4. Saling menjaga harga diri, dengan tidak saling mempermalukan, bisa menjaga rahasia masing-masing. Terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit.
  5. Percaya akan kemampuan anak, tidak membandingkannya dengan anak lain. Karena setiap individu itu unik, jadi jangan sekalipun menyamakan mereka dengan anak lain.
  6. Saling memberikan anak merasa nyaman dengan memberi ruang privasi. Ada kalanya kita biarkan anak menikmati kesendiriannya. Jangan terlalu turut campur dengan segala sesuatu yang mungkin ingin dirahasiakannya. Meski sebenarnya kita tahu, tidak ada salahnya kita berpura-pura tidak tahu, selama itu hal yang positif. Dengan begitu, anak merasa mempunyai kebanggaan.
  7. Belajar mengerti dunia anak, tidak ada salahnya sebagai orangtua bertanya kepada anak, jadikan anak sebagai informan kita. Dunia anak itu penuh kejutan dan inofatif, karenanya sebagai sahabat, kita wajib tahu apa update terbaru dari dunia mereka. Terkadang, justru anak-anak cepat belajar menangkap hal baru di sekitarnya, makanya kita tidak perlu malu mengakui kalau mereka lebih daripada kita. Contohnya, dunia anak sekarang lebih mengenal minicraf, bukan lagi ultraman, dsb.
  8. Luangkan waktu bersama, hanya berdua untuk bermain bersama dan berbagi rasa. Saat seperti inilah yang disebut “great moment” dimana kita menikmati waktu berdua saja dengan buah hati.

 

Pastilah membahagiakan jika kita bisa menjadi sahabat bagi anak-anak kita. Saling memberi manfaat dan menjaga bersama. Yang jelas, dengan menjadi sahabatnya, kita tidak akan kuper dengan dunia anak. Dan dengan sendirinya kita akan menjadi orangtua yang kekinian, bisa mengimbangi apa yang anak butuhkan. Tidak sekedar ada di sisinya tanpa memahami dirinya secara utuh.

 

*Dwi Widiyanti S.Pd

Sumber : http://blogartikelpendidikan.com/anakku-sahabatku-menjadi-orang-tua-kekinian/

 

Posting Lainnya:

« Kembali

MUTIARA HADIST
Sifat Iri Yang Diperbolehkan :
Dari Ibnu Umar R.a. Berkata: Rasulullah Saw Bersabda, "Tidak Boleh Seseorang Iri Terhadap Orang Lain Kecuali Dalam Dua Hal Yaitu Seseorang Yang Diberi Pengertian Al Qur'an Lalu Ia Mempergunakannya Sebagai Pedoman Amalnya Siang-malam Dan Seseorang Yang Diberi Oleh Allah Kekayaan Harta Lalu Ia Membelanjakannya Siang-malam Untuk Segala Amal Kebaikan."

 

BERITA FOTO

ARTIKEL

  • Dunia Digital Vs Dunia Nyata

    DALAM banyak kesempatan, saya mendengar kuatnya anggapan bahwa dunia maya (digital) berbeda dengan dunia nyata. Dunia digital dianggap… ..

    2017-07-25 15:28:46 1768 hits
Posting lainnya:

JAJAK PENDAPAT

Mohon kesediaannya mengisi quesioner. Darimanakah anda mendapatkan informasi tentang SMK Yuppentek 1 Tangerang ?

Brosur
Internet atau Website
Teman atau Kerabat
Media Sosial Seperti Facebook

Tampilkan Hasil Suara

Mohon kesediaannya mengisi quesioner. Darimanakah anda mendapatkan informasi tentang SMK Yuppentek 1 Tangerang ?

Brosur (34.3 %)

Internet atau Website (33.3 %)

Teman atau Kerabat (30.8 %)

Media Sosial Seperti Facebook (1.5 %)

(198 Suara)